[SHORT STORY/BAHASA] FIRST LOVE NEVER WORKS

Oleh: S. Natasha

 

New york terlalu dingin malam itu, membuat pria jangkung yang sudah berbalut mantel tebal tetap menggigil hingga ia pun mempercepat langkahnya. Ia melewati beberapa orang dan tak sengaja menabrak bahu mereka namun tidak ada protes. Memang kota ini sangat sibuk dengan orang-orang yang berlalu lalang. Terlebih hari ini adalah tanggal 14 Februari.

Dylan Wong bisa melihat gambar hati yang bertebaran pada etalase toko dengan ornamen pink yang khas di sepanjang 7th Avenue. Diskon coklat dan bunga serta produk pasangan seperti sepatu Converse yang sedang dijinjingnya dalam tas belanja. Dylan juga sudah menyempatkan diri membeli beberapa coklat dan mengurungkan untuk membeli bunga mengingat kekasihnya alergi dengan serbuk bunga. Setidaknya ia beruntung sehingga tangannya tidak penuh.

Malam ini ia akan menginap di apartemen sang kekasih. Menghabiskan malam berdua dengan makan malam romantis dan hal-hal mendebarkan lainnya. Itu membuatnya cukup gugup. Bagaimana tidak. Ini kali pertama dirinya menginap di apartemen gadis yang baru dikencaninya dua minggu terakhir. Terlebih, orang itu adalah sosok yang sudah dikaguminya sejak lama. Si gigi kelinci.

Dylan tersenyum membayangkan wajah manis kekasihnya saat naik ke dalam bus. Ini benar-benar Jumat malam yang akan berjalan sangat panjang. Pria itu sungguh tidak sabar.

Drrrtttttt… drrrtttttt… drrrrttttt…

Ponsel Dylan bergetar. Ia merogoh saku celana dan melihat siapa gerangan si penelepon. Seketika Dylan mendengus. Itu bukan panggilan yang dinantinya. Tentu saja. Pasti kekasih hatinya sedang membuat Char Siu sekarang dan meninggalkan ponselnya di kamar.

“Hm?” Jawab Dylan dengan nada malas.

[Di mana?]

Suara di seberang sana terdengar menyebalkan di telinga Dylan. “Tentu saja pergi menikmati hari Valentine dengan kekasihku.”

[Kau akan menidurinya malam ini?]

Dylan menahan napasnya yang tiba-tiba jadi panas akibat ucapan temannya di balik telepon. Temannya itu memang senang mencampuri urusan pribadinya. “Sudah kubilang ini bukan pertama kalinya aku…”

[Jadi besok kau tidak bisa mengantarku ke bandara?]

Gadis di seberang sana memotong ucapan Dylan. Itu membuatnya kesal tapi tidak setelah ia dengar seluruh kalimat yang diucapkan temannya tersebut. Sial. Dylan benar-benar lupa jika besok pagi Josie akan kembali ke Hong Kong. Kali ini untuk waktu yang cukup lama.

Sejujurnya Dylan tidak sebenci itu dengan Josie yang selalu mengganggu dan mencampuri segala urusan pribadinya. Mereka bersahabat cukup lama. Bahkan di masa lalu Dylan pernah dengan bodohnya menyukai Josie yang mana dibalas dengan penolakan keras. Tentu. Dylan pantas mendapatkannya. Bagaimana pun tidak mudah berkencan dengan sahabat sendiri.

Dylan berpikir sesaat. Ia tidak mungkin melewatkan kesempatan bersama kekasihnya. Sementara ia sudah menunggu hari ini sejak lama. Jika besok pagi ia ijin pergi untuk mengantar Josie, entah apa yang akan dipikirkan sang kekasih. Oleh karena itu, Dylan pun memantapkan diri.

“Maaf, tapi kau tahu aku sudah menunggu hari ini, bukan?”

[Ya ya ya…]

“Aku akan meminta Xavier menemanimu. Aku tahu kau pasti tidak mau mengeluarkan uang untuk taksi ke bandara. Tenang saja Xavier pasti bisa mengantarmu.

[Tidak usah.]

“Kenapa? Katanya minta diantar?”

[Sudahlah, siapkan saja d*ck lapukmu untuk mebobol lubang kekasih impianmu itu! Tidak usah pikirkan aku!]

Bip.

Dylan mengerutkan keningnya setelah mendengar sambungan teleponnya diputus oleh Josie. Ia kemudian hanya mendengus kesal.

***

 

“Selamat hari kasih sayang!”

Dylan mengecup hidung Violet Cheung, sebelum turun ke bibir. Hanya kecupan singkat. Ya, ia menyimpan yang terbaik untuk nanti malam. Seketika Dylan ingin mengangkat sebelah ujung bibirnya tinggi-tinggi.

Happy Valentine’s Day, babe!”

Kali ini Dylan mendapatkan pelukan. Ia kemudian memberikan kantung belanja berisi dua pasang sepatu Converse berwarna merah serta kotak coklat dalam bungkusan yang sama. Itu memang bukan hadiah yang mahal. Ia tahu jika kekasihnya adalah sosok yang sederhana dan rendah hati.

“Kita harus memakainya besok!” Ujar Violet. “Aku booking kelas melukis untuk dua orang.”

Dylan terkekeh. Kekasihnya memang sosok yang tidak bisa ditebak. Bahkan ia tidak diberitahu sebelumnya jika besok mereka harus ikut kelas melukis. “Kau selalu penuh kejutan.”

Ia lihat Violet hanya ikut terkekeh sebelum akhirnya menarik tangannya ke meja makan. Di sana sudah tersaji beberapa masakan China termasuk Char Siu yang membuat air liurnya menetes—warnanya begitu pekat dan nampak lezat. Tidak sampai sepuluh menit seluruh makanan di atas meja pun habis tak bersisa.

Sekarang Dylan menikmati segalas wine bersama Violet direngkuhannya. Mereka sedang menatap jendela besar, menampakan distrik Manhattan yang dipenuhi lampu-lampu cantik. Sejujurnya Dylan tidak tertarik dengan pemandangan kota atau wine di tangannya. Ia lebih tertarik melakukan hal lain, tapi ia tidak tahu bagaimana mana memecahkan situasi ini. Lagi pula kini ia perhatikan wajah Violet nampak berpikir keras.

“Dylan…”

“Hm?”

I’m happy to be with you… right now.”

Dylan tersenyum lalu mengecup pucuk kepala Violet, menghirup harum rambut kekasihnya yang beraroma strawberry. “Aku juga.”

After those gloomy days…”

Kali ini Dylan meletakan gelas wine-nya. Ia kemudian melingkarkan tangannya ke atas dada Violet dan merengkuhnya perlahan bagaikan memberi kekuatan pada raga yang rapuh tersebut. Dylan tahu cerita hidup Violet sebelum bersamanya. Bagaimana Violet melalui hari-harinya yang menyedihkan.

Sejujurnya, Dylan sempat berpikir mungkinkah ia hanyalah tepian sementara hati Violet atau pelampiasan gadis itu. Sempat pikiran-pikiran itu terlintas, namun bahkan jika benar Dylan tidak masalah. Akan ada hari di mana ketulusan hatinya bisa mengisi kerapuhan kekasihnya. Ia yakin.

“…thank you for being here.” Lanjut Violet.

“Kau bicara apa. I love you. That’s why I am here… for you.” Sahut Dylan.

Dylan menatap kedua mata Violet yang berkaca-kaca sekarang. Dylan pikir ini saatnya. Ia pun mulai mengecup bibir cherry Violet tanpa ada protes dari sang empunya hingga kemudian ia lanjutkan dengan ciuman manis. Akhirnya hal menegangkan yang sejak tadi ia tunggu-tunggu tiba. Walau entah bagaimana saat sedang mulai melucuti pakaian kekasihnya ia teringat dirinya belum mengabari Xavier untuk mengantar Josie besok ke bandara. Sial. Dylan jadi teringat hari berhujan tiga tahun lalu saat dirinya baru meninjakan kaki di New York untuk mulai kuliah.

Dylan menganggap Josie seperti adik kecil yang manja. Mereka sudah bersahabat sejak SMA dan sengaja merencanakan kuliah bersama di New York. Satu tahun terakhir, Josie jadi sering bolak-balik Hong Kong-New York karena Ibunya didiagnosa Kanker tulang. Ia pulang untuk menjenguk ibunya. Dua minggu belakangan, keadaan Ibunya kembali tidak stabil sehingga Josie memutuskan untuk cuti dari kampus selama satu semester dan kembali ke Hong Kong.

Dylan cukup menyesal tidak berkata lebih baik saat di telepon tadi. Seharusnya ia tahu jika Josie tidak dalam kondisi yang baik. Ia merasa bersalah sekarang. Dan hari berhujan itu… ia ingat. Saat itu dengan bodohnya ia mencium Josie. Setelahnya Dylan dan Josie tidak bicara selama satu minggu.

Dylan terbangun karena merasakan hidungnya gatal. Ia berusaha membuka matanya yang berat dan menemukan apa yang menyebabkan hal tersebut. Jemari mungil Violet sedang bermain di atas hidungnya. Sepertinya hidung Dylan dibuat semacam papan seluncur. Itu terlalu menggemaskan.

“O- kau terbangun?”

“…”

“Maaf aku tidak bermaksud membangunkanmu.”

Dylan menarik napas dalam-dalam lalu mendengus. “Kau memang ingin aku bangun, bukan?” Ia kemudian melihat seringai di bibir kekasihnya. Sungguh ia sempat berpikir jika Violet adalah sosok yang dingin, tapi ia salah besar. “Kau ingin ‘main-main’ lagi denganku?”

“Mungkin…”

“Hha-”

Drrrttt… drrrttt…

“Oh sebentar.” Tukas Dylan. Ia kemudian meraih ponselnya di nakas sebelah ranjang. Itu adalah pesan dari Xavier. Tadi malam sebelum tak sadarkan diri, Dylan sempat mengirim pesan pada Xavier untuk mengantar Josie ke bandara pagi ini dan Xavier baru balas bahwa ia sudah bersama Josie sekarang. Dylan merasa lega.

“Xavier…” Ujar Dylan mencoba memberitahu Violet yang nampak penasaran.

Ah… I see…”

Dylan hanya membalas pesan Xavier dengan kalimat ‘Ok. Thanks.’ sebelum akhirnya melempar ponselnya entah kemana lalu menarik tangan Violet. “Kita akan telat kelas melukis. Apa tidak masalah?” Tukasnya sambil mengangkat kedua ujung bibir.

“Kupikir tidak masalah… lagi pula aku bisa menjadwalkan ulang.”

Tanpa berpikir panjang Dylan langsung membawa tubuhnya ke atas tubuh Violet yang masih tak berpakaian. Kemudian ia mulai menghujani kekasihnya tersebut dengan ciuman dan satu sentuhan di bawah sana yang membuat Violet mengerang sempurna.

“Ah…”

Nampaknya mereka benar-benar akan telat datang ke kelas melukis atau bahkan melupakannya. Setelah membuat kacau ranjang, mereka pun pindah ke dalam kamar mandi. Sungguh pasangan muda yang sedang jatuh cinta.

***

Tiga bulan berlalu. Hubungan Dylan dan Violet nampaknya kian serius. Bahkan pasangan itu memutuskan untuk saling mengenalkan diri pada keluarga mereka. Bulan lalu Dylan bertemu dengan kedua orang tua Violet yang sedang berkunjung ke New York dan minggu depan Dylan akan membawa Violet ke rumah orang tuanya di Hong Kong. Walau begitu, Josie tidak ada kabar.

Dylan mencoba menghubungi Josie, tapi gadis itu tidak sekalipun menjawab panggilannya. Ia bahkan mencoba menanyakan Josie pada teman-teman SMA dan hanya mendapatkan kabar bahwa Josie masih di Hong Kong. Tentu, flatnya di New York kosong, tapi bukan itu informasi yang Dylan ingin dengar.

Mungkin lebih baik ia mengecek keadaan Josie secara langsung saat pulang ke Hong Kong nanti. Sejujurnya ia cukup khawatir dengan sahabatnya tersebut. Itu rencananya sampai tiba-tiba pintu flatnya diketuk.

Dylan berdiri dari kasurnya lalu berjalan untuk membukakan pintu tamunya yang berkunjung di tengah malam. Sudah pukul setengah satu pagi sekarang. Sejujurnya ia ingin protes, tapi kali ini ia urungkan.

“Josie…”

Dylan memperhatikan Josie yang duduk di tepi ranjangnya sembari menatap kosong ke lantai . Ia berkali-kali bertanya apa yang terjadi pada sahabatnya itu tetapi Josie tetap diam dan tidak menjawab. Sekali lagi Dylan bertanya hingga kali ini Josie bicara.

“Kau ingat hari berhujan tiga tahun lalu?”

Seketika Dylan bergidik. Tentu, ia masih sangat ingat hari itu. Mengapa tiba-tiba Josie mengungkitnya?

“Kau pasti tidak lupa.” Tukas Josie.

“…”

“Kau menciumku-”

“HEY! Kau mabuk ya?” Sergah Dylan. Ia tiba-tiba jadi salah tingkah.

“Kau bilang suka padaku dan aku adalah cinta pertamamu.”

“H-hey- . Josie…- kenapa kau masih mengingatnya? Bukannya kau tidak mau mengungkitnya lagi?”

Kali ini Dylan dengar hembusan napas yang berat dari Josie.

“Ya.”

Dylan berusaha mengatur dadanya yang tiba-tiba jadi tidak karuan. Itu memalukan sekali. Ia pikir Josie sudah melupakan kejadian tersebut.

Mereka berdua terdiam setelahnya. Dylan kini bersandar ke meja belajar sambil bersedekap sedang Josie masih melamun di tepian kasur. Sesekali mata Dylan melirik Josie. Ia pikir Josie sedikit aneh malam ini walau ia masih Josie Lau yang sama.

“Sepertinya aku cemburu karena kau tidak ada waktu untukku lagi sekarang. Maaf. Aku hanya ingin mengatakannya saja padamu supaya hatiku tenang.” Tukas Josie yang kali ini berdiri dari duduknya. Ia kemudian berjalan ke pintu keluar tapi tiba-tiba tangannya ditarik.

“Kau mau kemana lagi?”Ujar Dylan.

“Ke kamarku.”

Dylan merasakan tangan Josie menghempaskan cengkramannya. Setidaknya, Dylan lega bahwa Josie kembali ke New York. Walau begitu perkataan-perkataan Josie barusan jadi mengganggu kepalanya.

 

***

Esoknya salju turun. Dylan tidak pergi kuliah karena hari ini tidak ada kelas. Pagi itu ia keluar untuk membeli americano dan begel untuk sarapan. Nanti sore Violet akan menginap di flatnya. Ia pun mampir ke mini market untuk membeli beberapa camilan dan bir.

Hampir Dylan masuk ke dalam flatnya sampai ia beralih pada pintu flat milik Josie. Ia tidak berpikir ulang untuk mengetuk kamar gadis itu sampai tak lama pintu yang ia ketuk terbuka. Dylan melihat wajah Josie yang baru bangun dengan rambut berantakan.

“Mau main PS?”

Kini Dylan sudah duduk di karpet bulu depan tv sembari memegang stick PS sedangkan sang empunya rumah masih nampak mengantuk sehingga ia dalam posisi tengkurap di ujung ranjang.

“Apa aku bicara omong kosong semalam?” Ujar Josie tiba-tiba.

Dylan bergidik. Ia kemudian mencoba tenang menjawab pertanyaan Josie. “Kau selalu bicara ngawur saat mabuk.”

“Sial.”

Dylan terkekeh. Permainan akhirnya dimulai. Keduanya nampak serius  sampai akhirnya game pertama dimenangkan oleh Dylan.

“Wohoo!!!” Seru Dylan.

“Curang!” Tukas Josie.

“Haha enak saja!”

“Hsss…”

Layar TV nampak bersiap memulai permainan baru saat Dylan mendengar Josie bergumam sesuatu.

“Aku akan kembali ke Hong Kong.”

“Lagi?”

“Kali ini selamanya.”

Dylan seketika menoleh ke arah Josie dengan dahinya yang berkerut. “Maksudmu?”

“Kemarin saat pulang ke Hong Kong, aku sempat pergi ke beberapa universitas yang bisa mentransfer kreditku. Aku akan melanjutkan kuliah di Hong Kong dan menjaga ibu.”

Saat itu juga Dylan meletakan stick PS di tangannya. Ia memutar seluruh tubuhnya menghadap Josie. Ia merasa sangat sedih sekarang.

“Bagaimana keadaan Ibumu?”

“Sekarang stabil, tapi kapan pun bisa kembali drop.” Ujar Josie.

Dylan menatap iba pada Josie. Ia kemudian menggenggam lengan sahabatnya itu sebagai bentuk dukungan walau mungkin itu tak begitu berarti. Namun, membayangkan Josie akan pergi membuat Dylan benar-benar sedih.

“Dylan…”

“Hm?”

“Semoga kau bahagia dengan Violet.”

Dylan mendengus tapi ia tidak menyahuti ucapan Josie.

“Aku pasti akan mencari pria sepertimu.” tukas Josie.

“Kenapa harus sepertiku kalau dulu kau menolakku, heh?”

Dylan lihat Josie terkekeh lalu bangkit dari kasur. “Entahlah. Hanya karena aku tidak suka saja dengan Dylan Wong.”

“Sial!”

Setelahnya Dylan melempar bantal ke wajah Josie. Jadi seperti itulah akhir cerita cinta pertama Dylan pada sahabatnya. Hingga akhir ia tetap mendapat penolakan.

 

Dua tahun setelah lulus dari universitas, Dylan kembali ke Hong Kong. Ia mendapatkan pekerjaan yang cukup bagus di sana dan berencana menikahi Violet tahun ini. Ia bertemu dengan Josie lebih sering karena lagi-lagi mereka nampak berjodoh karena bekerja di gedung perkantoran yang sama. Terlebih Dylan sangat terkejut setengah mati melihat kekasih baru Josie yang dikenalkan padanya siang itu di kafetaria kantor.

“Wow…” Dylan menatap Josie sambil tersenyum sarkas.

“Perkenalkan ini sahabatku.”

Dylan mengulurkan tangannya sambil terus menatap sosok pria yang tidak lebih tinggi darinya. “Dylan.”

“Aaron.”

Pria itu Nampak sangat mirip dengan dirinya, namun dalam versi lebih matang dan dewasa.

 

End.

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.