[SHORT STORY/BAHASA] Always with You

Oleh : S. Natasha

 

Apa kalimat yang ingin kau dengar saat merasa terpuruk?

‘Tenang saja, aku akan selalu bersamamu.’

 

Ruangan itu berasap saat Ice masuk. Gadis bertubuh tinggi dan kurus tersebut tiba-tiba jadi gugup. Ia tidak bisa berpikir banyak—hanya kata-kata Aof yang terus berputar di kepalanya.

Sejujurnya sejak pagi tadi ia merasakan firasat buruk. Terlebih setelah kejadian di kantin kampus saat ponselnya tidak segaja terjatuh dan terinjak seseorang hingga kaca pelindungnya retak. Jika bukan karena Aof yang memberitahu bahwa sahabatnya tidak masuk kelas sejak mata kuliah kemarin sore, Ice tidak mungkin di sini sambil merasakan sekujur tubuhnya dingin.

Selain ucapan Aof, Ice sekarang jadi ingat berita yang cukup heboh beberapa bulan lalu. Seorang musisi yang ditemukan tewas di apartemennya karena sengaja menghirup gas beracun. Ice seketika menutup hidungnya dengan telapak tangan yang sudah gemetar.

Ia berjalan dengan sedikit mengendap. Sampai kemudian dengan mata yang sudah memerah ia menemukan sumber asap dari atas tungku di area dapur. Tidak hanya itu, ia juga menemukan seseorang yang sedang berusaha menyiram air ke sebuah wajan yang sudah hitam.

Seketika itu Ice bisa bernapas lega. Ia sempat menggaruk keningnya sesaat sebelum membantu temannya memadamkan api. ‘Bodoh’ pikir Ice.

“Beam… kenapa bisa gosong seperti ini?”

Butuh setengah jam kedua orang itu membereskan kekacauan yang terjadi di dapur. Sekarang Ice sedang membuka bungkus mie instant lalu memasukannya ke dalam panci berisi air yang sudah mendidih, sedang si empunya rumah hanya duduk di meja makan memperhatikan.

“Kakiku lemas saat masuk ke dalam unitmu tadi.” Ujar Ice.

“Kenapa?”

Ice mendengus sambil mengaduk mie instant di dalam panci. “Kupikir kau mau bunuh diri.” Ujarnya. “Aom bilang kau bolos sejak kemarin sore.”

“Hm.”

Ice melirik Beam tidak santai. “Aku jadi melihat story-mu di instagram. Kau banyak bernyanyi lagu tentang putus asa.” Gerutu Ice kali ini sambil menuang mie ke dalam mangkok. Ia kemudian mengaduknya lalu membawa mangkok tersebut ke hadapan pria yang kini nampak melamun.

“Dia sudah bersama pria lain.” Ujar Beam.

Ice terdiam.

“Aku tidak tahu salah siapa. Kupikir kami berdua tidak ada yang harus bertanggung jawab. Memang waktunya saja yang harus berakhir di sini.” Jelas Beam.

“Kalau begitu berhentilah menjadi orang gila. Kembali ke kehidupanmu.” Tukas Ice.

Ice lihat Beam tidak menanggapi ucapannya, tapi ia merasa lega melihat temannya mulai melahap mie. Ice sangat yakin pria di hadapannya belum makan sejak kemarin. Pipinya bahkan semakin tirus, pikir Ice.

Kedua orang itu terdiam bahkan sampai mie instant di mangkok Beam habis tak bersisa. Ice selalu tahu bagaimana memberi Beam ruang ketika sahabatnya itu dalam keterpurukan. Ia akan selalu menjadi kertas bersih yang bisa dicorat-coret sesuka hati sahabatnya itu.

Sekarang Ice sudah meletakan mangkok kosong di tempat cuci piring dan bersiap mengambil tasnya. Ia pikir Beam sudah lebih baik. Ia berniat kembali ke unitnya yang hanya berjarak dua pintu dari milik Beam.

“Mainkan gitar untukku.” Ujar Beam tiba-tiba.

Ice mengerutkan keningnya. Ia bahkan hanya bisa kunci C dan F karena hanya kedua kunci tersebut yang diajarkan Beam padanya sebelum pria itu berkata bahwa dirinya tidak berbakat.

“Kau bilang aku tidak berbakat.” Desis Ice.

Tidak ada balasan, tetapi Ice lihat Beam beranjak ke dalam kamarnya lalu keluar dengan membawa sebuah gitar. Terdengar hembusan napas Ice yang berat. Meski begitu, ia tetap berjalan ke sofa depan TV di mana Beam sudah duduk di sana.

“Mainkan lagu yang gembira.” Tukas Beam sambil memberikan gitar kepada Ice.

Ice kembali menghela napas, tapi sekali lagi ia nampak tidak bisa menolak permintaan Beam. Sambil memasang wajah memelas ia pun mulai meletakan jemarinya di atas senar. Ia pikir ada satu bait lagu yang ia tahu.

“Twinkle twinkle little star… sudah.”

“Apa-apaan!” Protes Beam.

“Aku cuma tahu kunci C dan F. Kau lupa? Kau sendiri yang mengajariku.” Tukas Ice.

Ice lihat Beam tidak menampiknya, tapi wajahnya malah berubah marah sampai kemudian pria itu menarik gitar dari tangan Ice.

“Lihat aku.” Ujar Beam.

Ice lagi-lagi mendengus, tapi ia kembali menuruti perkataan Beam. Ia bahkan memperhatikan dengan serius jemari Beam di atas senar.

Twinkle, twinkle, little star
How I wonder what you are
Up above the world so high
Like a diamond in the sky
Twinkle, twinkle little star
How I wonder what you are

“Seperti itu.” Tukas Beam.

Ice tidak mengangguk. Ia tetap berpikir yang barusan sulit. Ia bahkan langsung lupa sedetik setelah Beam menyelesaikan lagu tersebut.

“Aku tidak bisa.” Ujar Ice.

“Kau jahat sekali. Kau tidak mau menghibur temanmu ini?” Sergah Beam.

“Aku akan menghiburmu dengan cara lain selain gitar.” Tukas Ice.

“Kau benar-benar tidak pengertian.” Dengus Beam.

Kali ini Ice jadi merasa kesal. Ia nampak tidak setuju dengan ucapan Beam barusan. “Hey, aku di sini bersamamu.” Sergah Ice. “Bukankah kau hanya butuh itu? Aku akan selalu bersamamu di saat kau bahagia dan sedih. Aku selalu melakukannya.” Jelasnya.

Ice tiba-tiba saja menggigit bawah bibirnya. Ia tidak mengerti mengapa jadi terbawa emosi saat mengatakan hal-hal barusan. Sekarang ia bahkan bisa merasakan kedua matanya panas. Walau begitu ia malah mendapati Beam yang mengangkat kedua ujung bibirnya dan tak lama jemarinya kembali diletakan di atas senar.

I never imagined I’d find such a good day with us right here
At just the first meeting, I immediately felt like there was something
When we spoke, I knew and saw that it was meaningful
There’s something between the two of us, connecting us together
There might have been many times I was confused, many people showing up and passing through my life
But, when I met you, it was different because I was certain
If today we ended things, it’d probably be a mistake
When I found someone who once wrote that we were a good match with my heart

Ice mengedipkan dua matanya beberapa kali setelah mendengar Beam menyelesaikan lagu tersebut. Ia kemudian mengalihkan pandangannya. Sesuatu nampak berjalan tidak benar, pikirnya. Sehingga pada akhirnya ia mencoba mencairkan suasana.

“Lagu apa itu?” Ujar Ice.

“Aku sering mendengarkannya. Kau tidak tahu?” Tukas Beam.

“Ah.” Tiba-tiba Ice merasa semakin tidak baik. Ia bahkan mulai menggigit bawah bibirnya lagi. Ia pikir seharusnya bukan kata-kata itu yang keluar dari mulutnya. Terlihat sekali bahwa dirinya berbohong. Bahkan ia lihat Beam sedang menuntut dirinya mengakui kebohongan tersebut. Walau begitu, entah mengapa Ice tidak bisa membela diri sekarang. Ia malah jadi semakin kesulitan bicara.

“Kita bahkan mendengarkannya bersama saat di seminar karena kau mengantuk.” Ujar Beam. Nampaknya ia tetap akan membahasnya.

“Benarkah? Aku lupa.” Ujar Ice gelagapan. Ucapan Beam barusan semakin membuatnya merasa buruk. Ia bahkan jadi kembali teringat kejadian di aula kampus—saat mereka harus menghadiri seminar dan duduk di bagian pojok belakang. Ketika itu tiba-tiba saja lagu tersebut berputar dari earphone yang mereka pakai untuk mengatasi kebosanan. Ketika tiba-tiba untuk pertama kalinya Ice merasa sangat gugup bersama Beam, sahabatnya sejak SMA.

“Dasar.” Dengus Beam.

Ice hanya bisa tergelam dalam tawa canggung yang dibuatnya. Sampai titik di mana ia pikir bahwa ia tidak bisa lagi menjadi canggung lalu ia pun buru-buru beranjak dari sana. “Aku harus memberi makan Chichi.” Tukas Ice sebelum berlari keluar dari unit Beam.

 

Malam itu, Ice sibuk mengerjakan tugas. Ia bahkan tidak sempat mengecek ponselnya. Ada deadline tugas untuk esok hari dan ia baru menyadarinya satu jam lalu. Entah mengapa sejak sore tadi pikirannya jadi kacau.

Ketika waktu menunjukan pukul sebelas malam, Ice berhasil menyelesaikan tugasnya. Ia kemudian mengambil ponsel lalu mengecek instagramnya untuk menghibur diri. Walau begitu, bukannya terhibur ia malah kembali dikejutkan dengan unggahan story Beam di instagram yang diberi tag close friend.

Seketika itu juga ia berlari keluar unitnya lalu membuka pintu unit 1607 dengan kode yang sudah di luar kepala. Ice menolak untuk menoleh ke kanan-kiri saat masuk melainkan ia langsung menuju ke dalam kamar sahabatnya itu. Dengan tangan yang sudah dingin, ia membuka pintu kamar.

“Beam!” Sergah Ice. Ia terengah-engah, tapi nampaknya ia baru saja tertipu. Bahkan ketika ia sudah hampir menangis.

“Kau lumayan telat.” Ujar Beam santai.

Ice melihat Beam yang nampak baik-baik saja terduduk di tepi ranjang. “Brengsek…” Maki Ice dengan sisa tenaganya. Bahkan kini tubuhnya terhuyung ke lantai karena kedua kakinya benar-benar lemas lebih lemas dari sore tadi.

“Maaf.” Tukas Beam.

Lagi-lagi, Ice menggigit bawah bibirnya. Ia sekarang benar-benar merasa bodoh. Perasaannya campur aduk. Marah, takut, bingung, khawatir, dan terbodohi, serta malu.

“…jika tidak begini, kau tidak akan memberitahuku.” Ujar Beam masih terduduk di tepi ranjang. “Kau marah?”

Ice tidak menjawab. Ia benar-benar kesal sampai tidak tahu harus bicara apa. Ia benar-benar tertipu.

“Kau pasti sangat khawatir-“

“Sial-“ Sergah Ice. “Apa kau senang melihatku terlihat bodoh?”

“…”

“Aku bahkan lupa memakai alas kaki. Aku takut kau sudah mati jika aku harus menemukan sandalku dulu.” Tukas Ice.

“…”

“Kau memang brengsek.”

“Hm. Aku brengsek.”

Kali ini kening Ice berkerut. Ia sekarang sudah bisa menatap Beam yang sedang bangkit untuk menghampiri dirinya. Walau begitu, seketika itu juga ia membuang muka.

“Berdiri lah.” Ujar Beam sambil memegang kedua lengan atas Ice hendak membantu sahabatnya tersebut sampai tangannya ditepis.

“Aku bisa sendiri.” Tukas Ice. Ia kemudian mencoba berdiri dengan susah payah. Sekujur tubuhnya masih gemetar. Setelah berhasil, ia kemudian memutar tubuhnya lalu berjalan menuju pintu keluar tetapi Beam menarik tangannya. “Kenapa?” Ujar Ice tenang. “Bukankah sekarang kau sudah tahu?”

“Ice…”

Kini Ice mendapati Beam sudah di hadapannya tetapi Ice tetap membuang muka. Ia tidak mau menatap Beam.

“Aku yang lebih dulu…” Ujar Beam.

“Aku tahu.”

“Kita sama-sama tahu.” Angguk Beam.

“Lalu apa? Apa kita akan berkencan?” Ice mendengus.

Ice kini sudah bisa menatap Beam yang nyatanya sedang menatapnya sejak tadi dan hal tersebut membuat dadanya sangat kacau. Ini terasa aneh. Ice merasakan sekujur tubuhnya gemetar.

“Tidak.” Geleng Beam.

Kening Ice berkerut.

“Tidak perlu teburu-buru. Perlahan saja. Kau hanya perlu membuka hatimu padaku.” Ujar Beam.

Ice menelan salivanya. Entah mengapa sahabatnya baru saja berbicara dengan nada yang begitu rendah hingga membuat bulu kuduknya berdiri.

“Bisakah?”

“…”

“Ice…”

Ice lagi-lagi membuang muka. Ia memejamkan kedua matanya beberapa saat. Entahlah, ia pikir semua terasa membingungkan.

Ice memang menyadari sejak lama bahwa hubungan persahabatannya dengan Beam terlalu spesial. Namun, jika lebih dari itu Ice hanya takut akan berakhir seperti wanita-wanita yang dikencani Beam. Itu akan sangat menyedihkan kehilangan sahabat dan orang yang spesial untuknya sekaligus.

“Tidak bisa.” Ujar Ice pada akhirnya. Ia lihat wajah Beam terkejut dan berangsur kecewa.

“Kenapa?”

“Jika kita berkencan, kita akan putus.”

Ice lihat Beam kini menggigit bawah bibir, kedua matanya berkedip beberapa kali, tanda seseorang sedang meragukan sesuatu. Selanjutnya Ice menghela napas. Ia yang sebelumnya nampak kacau perlahan mulai bisa menenangkan diri.

“Lagi pula kau baru putus dengan pacarmu. Mungkin sekarang kau hanya sedang bingung.” Ujar Ice.

“Ice…”

“Aku akan kembali ke unitku dan melupakan kejadian ini.” Tukas Ice.

“…”

“Jangan lupa hapus instastory-mu. Close friend-mu yang lain akan khawatir.”

“Hanya kau di close friend-ku.”

Ice membelalakan matanya. Benar. Sejujurnya unggahan itu tidak nampak seperti konten yang bisa dibagikan ke orang-orang. Seseorang yang menyanyikan lagu yang beberapa kali Ice dengar dengan caption ‘Jika kau juga merasakannya, datanglah. Atau ini akan menjadi terkahir kali aku memainkannya untukmu’. Ice merutuk dirinya.

“…”

“Aku akan hapus.” Ujar Beam lirih.

Ice tidak mengangguk. Ia hanya menatap Beam sekilas lalu beranjak dari tempatnya berdiri sekarang. Ia berpikir mungkin akan menyesal jika pergi seperti ini, tetapi ia akan lebih menyesal jika hubungannya dengan Beam kacau.

 

Sudah satu minggu sejak kejadian di unit Beam. Ice tidak melihat batang hidung Beam di kampus—baiklah, nampaknya Ice menghindar. Banyak alasan yang sudah Ice utarakan dalam ruang obrolan dengan sahabatnya itu di LINE. Prinsip Ice, selama Beam tidak mengunggah sesuatu yang ‘aneh’ di sosial media, ia bisa menghidar dari sahabatnya itu dengan tenang. Walau tidak sepenuhnya. Menguatkan diri untuk bertemu pun Ice pikir hanya membuat dirinya berantakan. Jadi, Ice memilih jalan ini. Entah sampai kapan.

Pulang kuliah, Ice mampir ke salah satu mall di Siam untuk membeli screen guard untuk ponselnya yang retak. Ia bahkan sampai lupa denga masalah ponselnya karena terlalu banyak yang ia pikirkan akhir-akhir ini.

Setelah urusannya selesai, Ice hendak membeli makan malam tetapi pundaknya ditepuk dan saat menoleh ia menemukan Aof tentu bersama teman sekelasnya, sahabat Ice, Beam. Seketika itu juga wajah Ice langsung pucat. Ia mendapati Beam menatap dirinya dengan canggung.

“Ice, sedang apa di sini? Beam bilang kau sibuk akhir-akhir ini?” Ujar Aof.

Ice bergidik. “Ponselku bermasalah. Aku habis membetulkannya. Sekarang sudah mau pulang.” Jawab Ice cepat. Ia seperti tidak menggunakan tanda baca saat bicara barusan.

“Kebetulan sekali, kau pulang saja dengan Ice. Jadi, aku bisa kencan dengan Jenny.” Cengir Aof.

Kening Ice berkerut seketika. Ia melirik Beam, tapi nampaknya tidak ada yang bisa membantunya keluar dari situasi ini. Sampai akhirnya ia pun berakhir di dalam BTS bersama Beam.

Tidak ada pembicaraan selama di BTS. Sekarang mereka sudah turun dan berjalan ke gedung apartemen. Sampai tiba-tiba saja suara Beam membuat Ice menghentikan langkahnya.

“Aku balikan dengan pacarku.”

Ice mendengus. “Aku sudah tahu itu akan terjadi.”

“Bagaimana kau tahu?” Tanya Beam bingung.

“Kau bukan tipe orang yang mudah merelakan sesuatu. Apalagi sesuatu yang sangat kau sukai. Kau ingat pulpen warna-warni yang kuambil darimu? Bahkan sampai lulus SMA kau masih terobsesi untuk merebutnya lagi dariku. Sial.” Jelas Ice yang kini melihat Beam tertawa sambil memegang keningnya sendiri.

“Kau benar-benar tahu diriku sangat baik.” Tukas Beam.

Ice hanya menyengir malas lalu kembali melanjutkan langkahnya.

“Lalu kau tahu apalagi tentang diriku?” Tanya Beam.

“Kenapa jadi banyak tanya-tanya?” Tukas Ice.

“Aku hanya ingin tahu.” Dengus Beam.

“Apa?”

“Coba apa yang paling aku benci?”

“Tokek.”

“Makanan favoritku?”

“Sushi.”

“Warna favoritku?”

“Hitam.”

“Haha. Aku tidak menyangka kau banyak tahu.” Tawa Beam.

“Ck.” Decak Ice.

“Satu lagi.”

“Apa lagi?”

“Kalimat yang ingin kudengar tiap sedang sedih?”

Ice menghela napasnya. Ia benar-benar kesal karena menyadari Beam sedang menjahilinya. “Aku akan selalu bersamamu, tenang saja.” Ujar Ice. Ia kemudian lihat Beam tersenyum dengan lebar.

“Terimakasih, Ice.” Ujar Beam.

“Untuk apa?”

“Aku akan pegang janjimu.” Tukas Beam.

“…”

“Suatu hari nanti, aku akan menagihnya sambil berlutut di hadapanmu.”

 

End.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.